Ternate - Salma Haji Halek, mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) IAIN Ternate, membuktikan bahwa semangat menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia. Di usia 64 tahun, perempuan asal Pulau Makian yang telah lama menetap di Kota Ternate ini akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan di bidang agama pada semester ini, menyelesaikan sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Perjalanan ini bermula jauh sebelum sebagian besar mahasiswa hari ini lahir ke dunia, yakni pada 1982. Saat itu, langkah Salma menuntut ilmu harus terhenti oleh berbagai kendala. Ia sempat mencoba peruntungan di bangku kuliah di Ambon, lalu di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, bahkan pernah pula tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate. Namun setiap kali, berbagai kendala membuat gelar sarjana itu belum juga tercapai. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Salma memilih tetap berkarya, mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Inggris selama bertahun-tahun, menyalurkan ilmunya kepada generasi muda, sembari diam-diam menyimpan cita-cita yang belum tuntas itu di dalam hati.
Yang membuat kisah ini begitu menyentuh adalah alasan di balik keputusannya kembali ke bangku kuliah setelah sekian lama: sebuah wasiat dari kedua orang tuanya. Mereka berharap Salma kelak menjadi sarjana di bidang keagamaan, bukan bidang umum. Amanah sederhana namun berat itu terus ia bawa selama puluhan tahun, seperti janji yang tak pernah ia izinkan dirinya lupakan. Barulah setelah pensiun dari dunia mengajar pada 2022, Salma akhirnya memutuskan mendaftar ke Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Ternate, sebuah program studi yang, menurut pengakuannya sendiri, bahkan belum ia ketahui keberadaannya sebelum ia mendaftar.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi, Salma tetap aktif mengajarkan baca tulis Al-Qur'an (BTQ) kepada masyarakat sekitarnya. Semangatnya membumikan nilai-nilai Al-Qur'an ini terinspirasi dari sosok M. Quraish Shihab, ulama tafsir yang karya-karyanya begitu ia kagumi. Ada satu rangkaian ayat yang paling ia hayati sepanjang perjalanan ini, QS. Ali 'Imran ayat 190-195, sekumpulan ayat yang berbicara tentang ulul albab, orang-orang berakal yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apa pun sembari merenungi ciptaan-Nya, hingga mereka yang tetap teguh meski diuji dan disakiti dalam perjalanan hidupnya. Bagi Salma, ayat inilah yang menurutnya selalu menjadi sumber kekuatan setiap kali semangatnya diuji.
Dan semangat itu memang benar-benar diuji, berkali-kali, dengan cara yang tidak ringan. Sejak 2016, sang suami menderita stroke dan membutuhkan perhatian penuh dari Salma. Belum lagi pulih dari beban itu, pada 2024 ia harus menghadapi kehilangan yang jauh lebih berat: putra sulung beserta menantunya berpulang. Duka yang datang bertubi-tubi itu bisa saja menjadi alasan yang sangat wajar untuk berhenti. Namun Salma memilih sebaliknya, ia tetap melangkah, terus kuliah, hingga akhirnya berhasil menuntaskan studinya pada semester ini.
Perjuangan Salma juga tak lepas dari keterbatasan ekonomi. Jika dulu biaya kuliahnya ditanggung orang tua, kini di usianya yang tak lagi muda, ia justru membiayai sendiri pendidikannya dari uang pensiun, itu pun setelah dipotong kewajiban bank, hanya menyisakan sekitar Rp400 ribu setiap bulan untuk menopang hidupnya. Namun bagi Salma, angka sekecil apa pun bukan alasan untuk berhenti belajar. Ia tetap bersyukur, dan kini telah sampai di garis akhir yang telah lama ia nantikan.
Di penghujung kisahnya, Salma menitipkan pesan yang layak direnungkan oleh generasi muda: "Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahad, berjuanglah seperti Rasulullah ketika berdakwah, dan tetaplah istiqamah agar setiap perjuangan membuahkan hasil."
Ia juga membagikan dua pandangan hidup yang selama ini menjadi pegangannya. Pertama, bahwa kecantikan sejati seseorang tidak terletak pada busana atau riasan wajah, melainkan pada ilmu dan kesopanan yang dimilikinya. Kedua, bahwa status yatim tidak melulu soal kehilangan orang tua, tetapi juga bisa berarti kehilangan arah karena tiadanya ilmu dan adab dalam diri.
Kisah Salma Haji Halek adalah pengingat sederhana namun kuat, bahwa usia bukanlah penghalang bagi siapa pun yang benar-benar berniat menuntaskan mimpinya. Di tengah stroke yang menimpa suami, duka kehilangan anak, dan keterbatasan ekonomi, Salma tetap memilih untuk melangkah ke ruang kuliah, hingga akhirnya berhasil menepati wasiat kedua orang tuanya, membuktikan bahwa menuntut ilmu memang tidak pernah mengenal kata terlambat.
Yang membuat momen ini semakin istimewa, kelulusan Salma ternyata berlangsung nyaris bersamaan dengan putrinya sendiri, Siti Maisarah Daim, yang turut menempuh pendidikan di kampus yang sama. Pada hari yang sama, sang ibu menjalani ujian skripsi pada pagi hari, sementara sang anak menyusul menjalani sidang skripsinya di siang hari. Momen ibu dan anak yang sama-sama menuntaskan studi dalam satu hari ini menjadi bukti nyata bahwa semangat menuntut ilmu yang ditanamkan Salma turut menular kepada generasi berikutnya dalam keluarganya.
Seperti pepatah Arab yang populer, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil, begitulah kiranya perjalanan Salma Haji Halek dan putrinya. Dan sejalan dengan semangat menuntut ilmu agama yang mereka jalani, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam dalam agama." (HR. Bukhari dan Muslim)