ID | EN
Beranda Berita

Sambut Hari Santri, Kanwil Kemenag Malut dan Akademisi IAIN Ternate Latih Guru PAI Madrasah Metode Qiro’ah

Humas FUAD

16 Oct 2026 • 10:01 WIT Dibaca 103 kali
Sambut Hari Santri, Kanwil Kemenag Malut dan Akademisi IAIN Ternate Latih Guru PAI Madrasah Metode Qiro’ah

Ternate — Membedakan bunyi alif dan ‘ain terdengar sepele. Namun bagi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Drs. H. Amar Manaf, M.Si., hal itu menjadi salah satu ukuran awal apakah seorang anak madrasah benar-benar bisa mengaji.

Pesan itu disampaikan Kakanwil saat membuka Workshop Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Berbasis Metode Qiro’ah di Aula MTsN 1 Kota Ternate, Jumat (16/10/2026). Workshop yang digelar selepas salat Jumat ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama Kanwil Kemenag Maluku Utara, PWNU Maluku Utara, IAIN Ternate, LPQ Bustanul Qiro’ah, dan Jurnal Tarogau. Pesertanya para guru PAI madrasah, yang lebih dulu mengikuti pretest sebelum acara dimulai.

Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kemenag Malut, H. Yamin Latief Tjokra, S.HI., M.Pd., dalam sambutannya menjelaskan bahwa workshop ini merupakan program Bidang Pendis yang dirangkaikan dengan Hari Santri. Melalui kegiatan ini, peringatan Hari Santri disambut dengan meningkatkan kualitas guru PAI Madrasah.

Kakanwil kemudian menitipkan pesan kepada para pemateri. Menurutnya, madrasah adalah amanah masyarakat, karena orang tua berharap lulusan madrasah berbeda dari lulusan sekolah pada umumnya. Karena itu, Kanwil Kemenag Malut menggulirkan Gerakan Literasi Madrasah (Galatama), yang salah satu tujuannya memastikan anak madrasah betul-betul bisa mengaji.

Mengaji yang dimaksud adalah mengaji dengan benar. Anak harus fasih, mampu membedakan bunyi huruf seperti alif dan ‘ain, serta minimal menguasai tajwid. Selain itu, Galatama juga mendorong siswa madrasah menguasai kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab. Fokusnya pada praktik berbicara lebih dulu, sedangkan tata bahasa menyusul kemudian. Gerakan ini juga diharapkan membuat para guru menumbuhkan karakter gemar membaca pada anak.

Di hadapan para peserta, Kakanwil menegaskan bahwa kemampuan mengaji adalah fondasi. Ia berharap, lewat workshop ini, para guru mendapatkan pengetahuan yang mendalam agar pembelajaran Al-Qur’an berlangsung cepat. Untuk itu, guru perlu mengikuti metode yang baru dan lebih baik, sehingga persoalan anak madrasah yang belum bisa mengaji dapat dituntaskan.

Ia juga mengingatkan bahwa pembelajaran agama tidak harus selalu menunggu kurikulum. Pastikan dulu anak bisa mengaji. Setelah itu, guru diminta fokus pada empat hal: membangun keyakinan kepada Allah, melatih kemandirian salat, mengajarkan kemandirian bersuci, serta menanamkan hubungan yang baik antara manusia dengan sesama dan dengan alam. Kakanwil lalu membuka kegiatan secara resmi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi materi yang dipandu Dr. Agus, S.Pd.I., M.Pd.I., sebagai moderator yang juga merupakan Ketua Program Studi Doktor Studi Islam IAIN Ternate. Pemateri pertama, Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Th.I., yang juga Wadek III FUAD IAIN Ternate, memaparkan empat indikator keberhasilan belajar membaca Al-Qur’an. Keempatnya adalah menguasai huruf hijaiyah, tanda baca, perubahan bentuk huruf ketika bersambung, dan dasar ilmu tajwid.

Ust. Amri menyebut metode Qiro’ah memiliki empat kekhasan: cepat tetapi tidak instan, mudah, menyenangkan, dan komplit. Ia berbagi pengalaman pribadi mengajarkan metode ini kepada keluarganya sendiri. Ia lalu menguraikan tujuh kunci sukses mengajar dengan metode Qiro’ah, yaitu materi dipahami, ditunjuk, dituntun, diulangi, diuji, diperlancar, dan dipindahkan.

Metode yang bersumber dari Buku Qiro’ah karya Andi Suriadi ini mengusung pendekatan Cara Belajar Santri Super Aktif (CBSSA) dan dilengkapi ilmu tajwid. Dalam materi workshop, metode ini disandingkan dengan metode lain yang lebih dulu dikenal. Baghdadiyah bertumpu pada sistem mengeja, Iqra’ pada sistem menyicil, dan Al-Barqi pada pola kata, sementara Qiro’ah menggunakan sistem gambar.

Setelah fondasi konsep diletakkan, pemateri kedua, Dr. Agustang K., S.Pd.I., M.Pd.I., yang juga Koordinator Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) FTIK IAIN Ternate, membawa peserta ke sisi teknis. Ia menekankan prinsip membaca, bukan menghafal. Ia juga menjelaskan cara menggunakan kartu kontrol, cara memakai buku, dan kunci-kunci metode Qiro’ah.

Penjelasan itu tidak berhenti di layar presentasi. Pemateri kedua memperagakan langsung setiap langkahnya, lalu mengajak peserta mengikuti. Para guru yang sehari-hari berdiri di depan kelas kini berganti posisi menjadi santri. Mereka menirukan contoh dari pemateri dan mengulanginya bersama-sama. Aula MTsN 1 Kota Ternate pun riuh oleh suara peserta yang serempak mempraktikkan kunci penggunaan metode Qiro’ah.

Antusiasme itu berlanjut ke sesi tanya jawab. Pertanyaan peserta umumnya berangkat dari kendala yang mereka hadapi saat mengajar. Ust. Amri, yang juga Imam Masjid Al-Munawwar Ternate, menjawab lebih dulu. Ia menekankan cara-cara praktis dan pentingnya buku kontrol untuk memantau perkembangan santri. Ia juga mengajak peserta mencari satu orang pertama yang mau diajari metode Qiro’ah.

Ust. Agustang yang juga merupakan pendiri LPQ Bustanul Qiro'ah bersama istrinya, Dr. Sugirma, S.Pd.I., M.Pd.I., melanjutkan dengan menjelaskan perlunya seni dalam mengajar. Ia mengingatkan bahwa setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga tugas pengajar adalah memilih sisi yang paling sesuai dengan kebutuhan muridnya.

Rangkaian kegiatan ditutup oleh moderator Dr. Agus, dengan membagikan post-test kepada peserta sebagai pasangan pretest di awal kegiatan. Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama.

Lembar post-test memang menutup workshop siang itu, tetapi pekerjaan para guru justru baru dimulai. Di madrasah masing-masing, mereka membawa satu tugas yang dititipkan sejak pembukaan: memastikan tidak ada lagi anak madrasah yang belum bisa mengaji. Pesan itu senada dengan potongan hadis yang terpampang di slide penutup materi, khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu: sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

 

Fotografer : Rudi