ID | EN
Beranda Berita

Bedah Buku Mahkota Santri di IAIN Ternate Ungkap Jejak Alkhairaat dan Peran Santri Mengawal Kemerdekaan

Nadira, Kiki, Salsa & Nurs

15 Oct 2026 • 11:44 WIT Dibaca 34 kali
Bedah Buku Mahkota Santri di IAIN Ternate Ungkap Jejak Alkhairaat dan Peran Santri Mengawal Kemerdekaan

Ternate — Rangkaian Gebyar Hari Santri 2026 IAIN Ternate berlanjut dengan bedah buku Mahkota Santri: Menelisik Perjalanan, Aktivitas dan Peran Santri dari Kisah hingga Tonggak Nasionalisme Indonesia di Auditorium IAIN Ternate, Kamis (15/10/2026). Diskusi ini diikuti pimpinan, pejabat, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan santri Ma’had Al-Jami’ah IAIN Ternate.

Buku tersebut merupakan bunga rampai yang ditulis oleh 31 penulis dan telah dirancang sejak 2025. Dua di antara penulisnya hadir sebagai pemateri, yakni Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., dan Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag. Diskusi dipandu Dr. Hendi Sugianto, M.Pd., selaku moderator.

Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., tampil sebagai pemateri pertama dan menyampaikan paparannya secara daring melalui Zoom. Ia mengulas Alkhairaat, organisasi sekaligus lembaga pendidikan Islam yang berpusat di Palu, Sulawesi Tengah. Lembaga itu didirikan pada 1930 oleh Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, yang dikenal sebagai Habib Idrus atau Guru Tua, ulama kelahiran Hadramaut, Yaman, yang kemudian berdakwah dan mengajar di Indonesia.

Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., menyebut perjalanan Guru Tua sangat luar biasa. Guru Tua merantau jauh dari tanah kelahirannya, membangun lembaga pendidikan dari awal, dan mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan Islam. Menurut Guru Besar bidang sejarah Islam Indonesia itu, kisah Alkhairaat merupakan bagian penting dari sejarah Islam dan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di wilayah timur.

Pemateri kedua, Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag., melanjutkan pembahasan Alkhairaat dari sisi perkembangan dan kiprah kebangsaannya. Berawal dari satu madrasah sederhana, Alkhairaat tumbuh menjadi jaringan pendidikan Islam terbesar di kawasan timur Indonesia. Pada 2018, jaringan itu tercatat memiliki 1.642 cabang.

Menurut Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag., kunci perkembangan itu ada pada pola kaderisasi Guru Tua. Murid-murid dilatih secara intensif di Palu, lalu diutus menjadi guru dan membuka madrasah di daerah baru. Dari pola tersebut, Alkhairaat menyebar ke Ampana, Poso, Luwuk, Parigi, Gorontalo, Manado, hingga Ternate.

Alumnus Alkhairaat itu juga menyoroti peran lembaga tersebut dalam perjuangan kebangsaan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung Alkhairaat diambil alih untuk dijadikan markas tentara. Setelah proklamasi, para tokoh Alkhairaat turut mengangkat senjata melawan NICA. Guru Tua juga menanamkan cinta tanah air melalui syair berbahasa Arab yang dihafal murid-muridnya. Salah satu baitnya menyebut bahwa setiap bangsa memiliki lambang kemuliaan, dan lambang kemuliaan bangsa Indonesia adalah Merah Putih.

Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag., menilai pelajaran sejarah kemerdekaan di sekolah lebih banyak menyoroti pahlawan nasional, tokoh revolusi, dan pemuda, sementara peran santri kerap terlewat. Padahal, santri memiliki andil besar, salah satunya melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu membangkitkan semangat santri dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Karena itu, ia mengajak peserta memahami sejarah kemerdekaan secara utuh, sebab perjuangan pahlawan, pemuda, ulama, dan santri sama-sama bagian penting dari kemerdekaan Indonesia.

Setiap paparan pemateri dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta memanfaatkan kesempatan itu untuk menggali lebih jauh isi buku dan peran santri dalam sejarah bangsa. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama.

Bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian Gebyar Hari Santri 2026 IAIN Ternate. Selain bedah buku, panitia juga menggelar lomba pidato dan lomba karya tulis ilmiah bertema “Ekoteologi dan Moderasi Beragama di Maluku Utara”. Lomba terbuka bagi santri dan siswa MA, SMA, SMK, serta pondok pesantren se-Maluku Utara, serta mahasiswa IAIN Ternate.

Pendaftaran sekaligus pengiriman naskah dan video pidato dibuka hingga Sabtu, 17 Oktober 2026. Lima karya terbaik dari setiap cabang akan maju ke babak final pada 20–21 Oktober 2026 yang digelar secara hibrida di Auditorium IAIN Ternate. Sepuluh karya tulis ilmiah terbaik juga akan dibukukan dan diterbitkan oleh IAIN Ternate.

Santri, pelajar, dan mahasiswa yang berminat dapat segera mendaftar lomba pidato melalui bit.ly/LombaVideoPidato dan lomba karya tulis ilmiah melalui bit.ly/LombaKTIHariSantri2026. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui narahubung panitia di nomor 0821-6975-1418 dan 0813-5611-9696.