Perayaan Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate tahun ini tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang institusi, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi intelektual melalui literasi dan diskusi akademik. Pada Senin, 31 Agustus 2026, semangat itu diwujudkan lewat forum bedah buku yang digelar di Auditorium IAIN Ternate, tak lama setelah edukasi kebanksentralan dari Bank Indonesia dan kuliah tamu Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara usai berlangsung di tempat yang sama. Meski dua sesi sebelumnya telah berjalan sejak pagi, sivitas akademika tetap bertahan di tempat duduk mereka untuk mengikuti rangkaian diskusi hingga siang hari.
Salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis tersebut diisi dengan bedah tiga buku karya Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yakni Pikiran yang Memurnikan, Simpul Pemikiran, dan Artikel dan Opini Pilihan. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan guru besar, yaitu Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) Ternate; Prof. Dr. Jubair Situmorang, S.Ag., M.Ag., Guru Besar bidang Fiqih Siyasah IAIN Ternate; dan Dr. Herman Oesman, S.Sos., M.Si., dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Ketiganya membedah buku secara terpisah: Prof. Jubair menyoroti Pikiran yang Memurnikan, Herman Oesman membahas Artikel dan Opini Pilihan, sementara Prof. Gufran mengulas Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar. Diskusi dipandu oleh Dr. Agus Salim, S.Sos., M.A., dosen FUAD IAIN Ternate.
Suasana diskusi berlangsung khidmat dan penuh gagasan. Ketiga narasumber tidak hanya membicarakan isi buku, tetapi juga mengajak mahasiswa melihat karya tersebut sebagai dokumentasi perjalanan intelektual yang merekam pemikiran para ulama, akademisi, dan negarawan, khususnya dalam memperbincangkan relasi antara Islam dan kebangsaan.
Dr. Herman Oesman dalam pemaparannya menilai salah satu keutamaan karya Prof. Nasaruddin Umar terletak pada kemampuannya menjembatani bahasa akademik dengan bahasa publik. Menurutnya, karakter tersebut membuat gagasan-gagasan dalam buku tidak berhenti di ruang-ruang kampus, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Ia menyebut buku setebal 378 halaman yang dibahasnya itu sebagai rekaman perjalanan intelektual Nasaruddin Umar, baik sebagai ulama, akademisi, maupun negarawan, dengan gagasan yang menurutnya tetap relevan dengan berbagai persoalan masyarakat mutakhir — mulai dari moderasi beragama, toleransi, kemajemukan, keadilan, isu gender, hingga lingkungan hidup.
Ia juga menyoroti konsistensi tema yang terdapat dalam karya tersebut. Hampir seluruh tulisan, kata Herman, memperlihatkan benang merah berupa ajakan untuk membangun Islam yang moderat.
Salah satu bagian yang turut mendapat perhatian adalah pembahasan mengenai “Antropologi Jilbab” pada halaman 123–141. Dr. Herman menjelaskan bahwa pendekatan antropologi terhadap jilbab penting karena praktik berjilbab tidak hadir dalam ruang sosial yang kosong. Praktik tersebut dipengaruhi oleh berbagai konstruksi sosial mengenai perempuan, kesopanan, moralitas, identitas, serta relasi gender.
Herman bahkan melontarkan gagasan agar IAIN Ternate ke depan dapat memosisikan diri sebagai pusat kajian ekoteologi Islam, dengan mengintegrasikan nilai-nilai khalifah, amanah, mizan, dan keadilan ekologis ke dalam kurikulum, riset seputar pertambangan dan lingkungan, hingga pendampingan masyarakat. Menurutnya, tantangan terbesar ke depan adalah menggeser wacana ekologi Islam tersebut dari sekadar diskursus akademik menjadi gerakan nyata, baik di ranah akademik maupun sosial.
Sebelum sesi pemaparan Prof. Gufran, forum diskusi turut disegarkan dengan pemaparan jarak jauh melalui sambungan Zoom dari KH. Farid F. Saenong, Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama. Selama sekitar dua puluh menit, ia mengulas latar belakang pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, memberi konteks tambahan bagi mahasiswa sebelum masuk ke pembedahan buku Simpul Pemikiran secara lebih mendalam.
Sementara itu, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim mengaku menemukan keterhubungan gagasan ketika pertama kali membaca buku Simpul Pemikiran karya Prof. Nasaruddin Umar. Ia mengaku teringat pada karya Ferdinand de Saussure, Course in General Linguistics atau Cours de Linguistique Générale.
Menurut Prof Gufran, dalam tradisi linguistik, karya Saussure bukan sekadar tonggak penting dalam perkembangan studi bahasa modern, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya tradisi baru dalam riset, eksplorasi, dan eksplanasi bahasa sebagai sistem tanda, tindakan sosial, serta praktik budaya.
Melalui pendekatan linguistik dan intertekstualitas itu pula, Gufran menemukan tiga simpul gagasan utama dalam buku tersebut, yakni isu gender, kurikulum cinta, dan ekoteologi. Ketiganya, menurutnya, saling berkelindan dan bisa dirangkum dalam satu istilah lokal yang ia pinjam dari bahasa daerah, “ngokomalako” — semacam titik temu yang menandai kesamaan dan kesetaraan dalam beragam relasi antarmanusia. Bedah buku ini, menurutnya, membuka ruang bagi sivitas akademika IAIN Ternate untuk membaca ulang sekaligus menguji gagasan Nasaruddin Umar, khususnya terkait Islam, kemanusiaan, kebangsaan, gender, dan lingkungan.
Dari perbandingan tersebut, Gufran mengajak mahasiswa melihat buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sebagai contoh bagaimana gagasan dapat dirawat, dikembangkan, dan diperluas melalui tulisan. Ia pun mendorong mahasiswa untuk menjadikan karya tersebut sebagai salah satu referensi dalam membangun tradisi menulis dan memperluas pemikiran.
Gagasan mengenai hubungan antara teks, kehidupan, dan kemanusiaan kemudian diperkuat oleh Prof. Dr. Jubair Situmorang, S.Ag., M.Ag., yang membedah buku Pikiran yang Memurnikan dengan pendekatan verstehen, yakni metode penafsiran yang berupaya menangkap makna di balik teks, bukan sekadar membaca kata per kata. Dengan pendekatan itu, ia menilai gagasan-gagasan Prof. Nasaruddin Umar tidak berhenti pada tataran akademik atau teori semata, melainkan turut mewarnai kebijakan-kebijakannya selama menjabat sebagai Menteri Agama RI. Baginya, karya Prof. Nasaruddin Umar pada dasarnya merupakan buku tentang pemikiran yang mengajak pembaca untuk menemukan relevansi agama dalam kehidupan nyata.
“Agama tidak berhenti pada teks, agama harus menemukan relevansinya,” ujar Prof Jubair dalam diskusi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak semestinya hanya dibaca untuk memperoleh pahala, tetapi juga untuk menemukan pesan moral yang dapat mengubah kehidupan. Begitu pula fikih, menurutnya, tidak cukup hanya berbicara mengenai halal dan haram, tetapi harus mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan.
Hal serupa berlaku pada spiritualitas. Spiritualitas, kata Prof Jubair, bukan hanya tentang mendekatkan manusia kepada Tuhan, tetapi juga harus mendorong manusia untuk semakin dekat dan peduli kepada sesamanya.
Dalam pemaparannya, Prof Jubair juga menyinggung adanya goresan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam karya Prof. Nasaruddin Umar. Ia menyebut buku tersebut sebagai jejak pemikiran yang dituangkan dalam sembilan bab, dengan irisan gagasan yang memiliki napas pemikiran Al-Ghazali.
Selain itu, Prof Jubair menyoroti kritik terhadap pemikiran otoriter dan kerusakan alam sebagai bentuk kegagalan manusia dalam menghormati ciptaan Tuhan. Ia juga menyampaikan pesan reflektif mengenai tiga golongan yang tidak boleh diremehkan, yakni pemimpin, orang berilmu, dan sahabat.
Diskusi yang berlangsung penuh antusias itu baru berakhir tepat pukul 13.20 WIT, setelah sivitas akademika mengikuti forum sejak pagi tanpa banyak beranjak dari kursi mereka. Bagi para narasumber, bedah buku dalam rangka Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate tersebut bukan sekadar forum untuk membicarakan sebuah karya. Lebih jauh, diskusi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat hubungan antara ilmu pengetahuan, agama, spiritualitas, dan kehidupan sosial.
Para narasumber juga mendorong mahasiswa IAIN Ternate untuk mengkaji lebih lanjut sisi pemikiran antropologis yang terdapat dalam buku-buku tersebut, baik melalui forum akademik maupun penelitian lanjutan. Dengan demikian, gagasan yang lahir dari sebuah buku tidak berhenti pada halaman-halamannya, tetapi dapat berkembang menjadi diskusi dan penelitian baru.
Para Narasumber juga berpesan agar mahasiswa terus menumbuhkan semangat literasi dan berpikir kritis. Usia enam dekade institusi diharapkan tidak hanya menjadi penanda perjalanan waktu, tetapi juga menjadi pengingat untuk terus “berkhidmat kepada kebajikan”, baik dalam kehidupan akademik maupun di tengah masyarakat.