ID | EN
Beranda Mimbar

Bebas, Tapi Belum Utuh

Abd. Rahman

29 May 2026 • 09:19 WIT Dibaca 24 kali
Bebas, Tapi Belum Utuh

Setiap tahun ajaran baru, saya melihat hal yang sama.

Mahasiswa baru masuk dengan mata berbinar. Ransel baru. Sepatu baru. Semangat yang masih rapi seperti baru dikeluarkan dari kotak. Mereka datang dengan satu keyakinan yang hampir seragam: akhirnya bebas.

Tidak ada guru yang marah kalau terlambat. Tidak ada orang tua yang tahu pulang jam berapa. Tidak ada yang peduli kalau kamu skip kelas demi rebahan dan scroll TikTok sampai lupa makan siang.

Saya tidak menghakimi. Saya pernah muda juga — meskipun belakangan ini sering saya ragukan sendiri.

Tapi ada yang menarik dari kebebasan semacam ini. Ia terasa seperti laut lepas yang indah dilihat dari atas kapal. Begitu kamu terjun sendiri, baru terasa betapa dinginnya air di bawah permukaan itu.

 

Kampus, dengan segala kecanggihan kurikulumnya, sangat pandai mengajarkan sesuatu yang bisa diukur.

IPK. Sertifikasi. Portofolio. Kompetensi teknis yang bisa ditulis di LinkedIn dengan bangga. Ada rubrik penilaian untuk hampir segalanya — dari laporan praktikum sampai presentasi akhir semester.

Tapi tidak ada SKS untuk “bagaimana kamu memperlakukan orang yang lebih lemah dari kamu.”

Tidak ada mata kuliah tentang “apa yang kamu lakukan saat tidak ada yang mengawasi.”

Tidak ada ujian akhir untuk kejujuran.

Kampus mengisi kepalamu. Tapi ia tidak bertanggung jawab atas kelakuanmu di lorong asrama jam dua malam.

Tahun 2024, tercatat 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan — naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kampus-kampus besar, dengan nama yang sudah masuk daftar universitas terbaik nasional, ikut muncul di berita dengan cerita yang tidak membanggakan. Pelakunya bukan siswa putus sekolah. Mereka mahasiswa aktif. Dengan KTM yang masih berlaku dan IPK yang tidak ada masalahnya.

Ini bukan soal satu kampus. Ini soal apa yang terjadi ketika kepala seseorang diisi dengan baik, tapi dirinya tidak pernah dilatih menjadi manusia.

 

Di sinilah saya ingin bicara tentang mahad — dan tolong tahan dulu keinginanmu untuk menutup tab ini.

Ma’had Al-Jami’ah. Pesantren kampus. Nama yang bagi sebagian anak SMA terdengar seperti hukuman tambahan sebelum kuliah bahkan dimulai.

Saya mengerti perasaan itu. Benar-benar mengerti.

Ada seorang mahasiswa yang pernah cerita kepada saya — ia masuk mahad dengan perasaan yang ia sendiri gambarkan sebagai “pasrah bin ikhlas, tapi lebih ke pasrahnya.” Aturan ketat. Jadwal padat. Teman-temannya di kos sebelah bisa keluar malam sesuka hati, sementara ia habis shalat isya masih harus belajar di asrama.

Ia protes dalam hati setiap hari selama tiga bulan pertama.

Tapi sesuatu terjadi di bulan keempat.

Ia menyadari bahwa ia tidak lagi mudah panik ketika tekanan datang. Tidak lagi gampang marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ada semacam ketenangan yang tumbuh di dalam dirinya — bukan karena ia menjadi lebih sabar secara ajaib, tapi karena tanpa ia sadari, ia sudah berlatih setiap hari.

Bangun sebelum subuh bukan karena alarm, tapi karena ada orang-orang yang bergerak bersamanya. Mengaji bukan karena ada absen, tapi karena itu sudah menjadi bagian dari ritme harinya. Hidup dalam komunitas yang punya standar — bukan hukum rimba siapa yang paling keras suaranya.

Karakter tidak tumbuh dari seminar motivasi dua jam. Ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang setiap hari sampai menjadi bagian dari cara kamu bernapas.

 

Saya mengabdi di kota yang namanya mungkin belum kamu hafal letaknya di peta — Ternate, di bawah kaki Gamalama, di ujung timur Indonesia yang sering dilupakan dalam percakapan nasional tentang pendidikan.

Di kampus tempat saya mengabdi, ada mahad. Dan saya perhatikan sesuatu dari tahun ke tahun.

Mahasiswa yang melewati mahad punya sesuatu yang sulit dijelaskan tapi mudah dirasakan. Cara mereka merespons tekanan. Cara mereka bicara kepada orang yang lebih tua. Cara mereka tetap berdiri tegak ketika kondisi sekitar sedang tidak mendukung.

Bukan karena mereka lebih pintar. Tapi karena mereka punya fondasi.

Dan fondasi itu — yang terbentuk bukan dari satu ceramah atau satu buku teks, tapi dari ratusan hari yang terasa biasa-biasa saja tapi ternyata membentuk segalanya — itulah yang tidak bisa diberikan oleh kampus manapun sendirian.

 

Jadi kalau kamu sekarang sedang menimbang-nimbang mau kuliah di mana, dan ada yang bilang bahwa perguruan tinggi Islam negeri — UIN, IAIN, STAIN — “ada mahad-nya, repot” —

Saya ingin kamu memikirkan satu hal.

Bertahun-tahun dari sekarang, kamu tidak akan diingat karena IPK-mu. Kamu akan diingat karena caramu memperlakukan orang. Cara kamu tetap jujur ketika yang tidak jujur jauh lebih menguntungkan. Cara kamu hadir — sungguh-sungguh hadir — untuk orang-orang di sekitarmu.

Skill teknis bisa usang dalam tiga tahun. Teknologi bergerak cepat dan tidak menunggu siapapun.

Tapi manusia yang utuh — yang punya kepala dan karakter sekaligus — itu tidak pernah usang. Di zaman manapun. Di kota manapun. 

 

Kebebasan yang kamu bayangkan saat masuk kuliah itu nyata. Kamu berhak atas kebebasan itu.

Tapi kebebasan tanpa fondasi bukan kebebasan. Itu hanya jatuh bebas — dengan tampilan yang lebih estetis dan soundtrack yang lebih bagus.

Mahad bukan hukuman di awal perjalanan.

Ia adalah akar yang membuatmu tidak tumbang ketika angin datang.