ID | EN
Beranda Mimbar

Puncak 1715 Mdpl dan Pelajaran yang Tidak Ada di Silabus Mana Pun

Rudi I Abd. Hadji

05 Jun 2026 • 07:20 WIT Dibaca 182 kali
Puncak 1715 Mdpl dan Pelajaran yang Tidak Ada di Silabus Mana Pun

Sebuah tadabbur alam dari lereng Gamalama

Ada satu jenis pengetahuan yang tidak bisa diperoleh dari membaca buku, tidak bisa diserap lewat ceramah dosen, dan tidak akan pernah muncul di soal ujian mana pun.

Ia hanya bisa didapat dengan cara berjalan. Dengan kaki sendiri. Di gelap. Ke atas.

Maka pukul 01.30 dini hari, kami berangkat.

Area parkiran di kaki Gamalama terasa berbeda di tengah malam. Sunyi dengan cara yang tidak pernah kami rasakan di siang hari — bukan sepi karena kosong, tapi sunyi karena alam sedang berdiam diri sebelum sesuatu yang besar dimulai.

Kami menundukkan kepala. Membuka perjalanan dengan Ummul Kitab. Lalu melangitkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam riwayat At-Tirmidzi:

"Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Baru setelah itu, kami melangkah masuk ke kegelapan.

Berjalan di bawah langit malam — di bawah bintang yang lebih terang dari yang pernah kami lihat di kota — ada sesuatu yang bergerak di dalam dada. Sesuatu yang sulit dinamai, tapi Quran sudah menamainya lebih dulu dalam Ali Imran 190: bahwa dalam pergantian malam dan siang, dalam ciptaan langit dan bumi, ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Bukan bagi orang yang menghafal. Bagi orang yang mau berpikir.

Malam itu, di antara pohon dan batu dan suara angin yang tidak ada lawannya, kami mulai berpikir.


Taman Love, Ketinggian, dan Kerlap-kerlip yang Mengajarkan Perspektif

 

Di Taman Love kami berhenti sejenak — bukan karena lelah yang berarti, tapi karena pemandangan ke bawah terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Kota Ternate dari ketinggian terlihat seperti bintang yang jatuh ke daratan. Kerlap-kerlip lampu membentang ke segala arah, megah dengan cara yang tidak pernah kami sadari ketika berada di tengahnya setiap hari.

Aneh, bukan? Kita sering tidak bisa melihat sesuatu dengan benar ketika terlalu dekat dengannya. Kota itu belum berubah. Yang berubah hanya posisi kita melihatnya.

Pelajaran pertama malam itu, dan kami baru saja sampai separuh jalan menuju Pos 1.


Mata Air di Antara Pos 2 dan Pos 3: Tentang Bekal yang Sengaja Dikosongkan

 

Saat udara pegunungan mulai berganti menjadi dingin yang menusuk tulang — jenis dingin yang membuat kamu tiba-tiba sadar bahwa jaket yang dibawa ternyata tidak cukup tebal — kami menemukan mata air alami di pertengahan jalur menuju Pos 3.

Air jernih, dingin, mengalir tanpa henti di antara batu-batu hitam.

Kami mengisi botol-botol yang sengaja dikosongkan. Bukan untuk diminum — tidak dulu — tapi untuk wudhu. Ada sesuatu yang terasa benar dalam gestur ini: sengaja mengosongkan diri, sengaja membawa wadah yang siap diisi, sengaja berjalan jauh untuk menemukan sumber.

Mungkin itulah cara lain membaca Quran — bukan dengan mata di atas kertas, tapi dengan kaki di atas tanah, dan hati yang dikosongkan dari kebisingan.

 

Salat di Ketinggian, Sebuah Kewajiban yang Tidak Kenal Alibi


Di Pos 3, di bawah langit subuh yang masih gelap namun sudah mulai mengisyaratkan fajar, kami mengambil wudhu dengan air yang kami bawa dari mata air tadi.

Lalu kami shalat.

Ada yang perlu dicatat di sini, bukan sebagai pamer kesalehan, tapi sebagai pengingat yang jujur: mendaki gunung adalah aktivitas yang sangat mudah dijadikan alasan untuk menunda ibadah. Nanti saja, sudah hampir puncak. Nanti saja, nunggu lebih terang. Dan kita semua pernah melakukan pengalihan semacam itu — dalam berbagai versi, di berbagai ketinggian kehidupan.

Malam itu kami tidak. Dan An-Nisa 103 terasa seperti berbicara langsung: "Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

Kewajiban yang ditentukan waktunya. Bukan kewajiban yang ditentukan kenyamanannya.


Adzan di Puncak Lereng: Tentang Syiar yang Melampaui Fungsinya


Ini bagian yang paling saya ingat.

Setibanya di Pos 5, pukul 06 pagi lebih, salah seorang dari kami mengumandangkan adzan. Suaranya memecah kesunyian lereng gunung dengan cara yang tidak bisa saya deskripsikan dengan kalimat biasa — ia hanya harus didengar.

Secara fiqh, ada pertanyaan menarik: bolehkah adzan dikumandangkan di luar waktu salat wajib? Para ulama menjawab: boleh, bahkan bernilai kebaikan. Adzan di tempat seperti ini bukan hanya penanda waktu — ia adalah dzikir, ia adalah pengagungan asma Allah di titik-titik tertinggi bumi, ia adalah syiar bagi siapa saja yang mungkin sedang dalam perjalanan dan belum sempat shalat.

Tapi di luar semua penjelasan fiqh yang valid itu, ada satu hal yang lebih sederhana dan lebih dalam: adzan di lereng Gamalama pagi itu terasa seperti cara bumi mengucapkan selamat datang kepada langit.


1715 Mdpl: Tempat Tertinggi yang Justru Membuat Kita Merasa Sangat Kecil


Ketika kaki ini akhirnya menapak di puncak, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Bukan euforia. Bukan teriakan kemenangan. Yang datang justru hening — hening yang berbeda dari yang kami rasakan semalam di kaki gunung. Ini hening yang berat, yang penuh, yang membuat dada sesak bukan karena tipisnya oksigen, tapi karena terlalu banyak kebesaran yang masuk sekaligus.

Hamparan awan di bawah. Kawah vulkanik hitam keabuan yang diam dalam kegagahannya. Langit yang terasa lebih dekat — atau mungkin kita yang merasa lebih dekat padanya.

"Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Agung, Maha Besar." (Asy-Syura: 4)

Berdiri di sini, ego yang biasanya terasa begitu besar di keseharian bawah sana, mendadak tidak punya tempat untuk berdiri. Bukan karena dipaksa rendah hati oleh situasi — tapi karena kebesaran yang nyata di depan mata membuat kesombongan terasa seperti kesalahan logika yang terlalu mendasar untuk dipertahankan.

Dan muncul satu kalimat dalam kepala, yang saya harap tidak akan saya lupakan sampai kapan pun:

Tempat tertinggi seorang hamba bukan di puncak gunung mana pun. Ia berada di titik terendahnya — yaitu saat bersujud di hadapan-Nya.