Begitu nama Generasi Baru Indonesia (GenBI) disebut, bayangan yang muncul cenderung seragam: sekumpulan mahasiswa berprestasi penerima beasiswa Bank Indonesia, sibuk dengan deretan program kerja yang terdengar bergengsi. Pada periode 2024-2025 puluhan program kerja yang menjangkau masyarakat telah berhasil di cetak.
Pada titik ini ada pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab: apa sebenarnya yang membuat seorang anggota tetap bertahan, bahkan rela berlelah-lelah, setelah dana beasiswa cair?
Jawabannya tidak terletak pada semegah apa program kerja disusun. Ia justru bersembunyi di tempat yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit dijaga: kualitas cara orang-orang di dalamnya saling berbicara.
Loyalitas memang tidak tumbuh dari ruang hampa.
Dalam kajian perilaku organisasi, ia lebih sering menjadi akibat ketimbang sebab. Ada dua hal yang biasanya mendahuluinya, yaitu rasa aman untuk berpendapat tanpa takut dihakimi dan kohesi sosial yang membuat orang merasa berada di kelompok yang sama. Keduanya tidak bisa diperintahkan dari atas. Keduanya hanya bisa ditumbuhkan lewat komunikasi sehari-hari yang penuh empati dan kesediaan untuk benar-benar mendengar.
Di titik inilah Maluku Utara punya modal yang jarang dimiliki daerah lain: tradisi bacarita. Berbincang santai, tanpa agenda yang kaku, sambil menyeruput kopi, sudah menjadi bahasa keseharian yang mengakar.
Tantangan organisasi dengan mahasiswa berperstasi, dengan jadwal yang tak menentu, jadwal kuliah, dinamika perlombaan dan tuntuan akdemik yang keras. Menjaga ritme organisasi dalam kondisi seperti ini jelas butuh energi lebih. Tetapi ketika para pengurus mau menarik tradisi bacarita masuk ke dalam pola kerja mereka, hambatan itu perlahan kehilangan taringnya.
Ruang-ruang informal lalu berubah fungsi. Obrolan di sela rapat, di kedai kopi, atau sekadar di koridor kampus, justru kerap menjadi tempat gagasan paling jujur dipertukarkan. Seorang ketua divisi yang tidak berhenti pada instruksi, melainkan mau bertanya soal kendala personal anggotanya, sedang menanam sesuatu yang tidak kelihatan tetapi nyata. Anggota yang merasa didengar dan dianggap ada, pada akhirnya, akan menumbuhkan rasa memiliki tanpa perlu diminta. Pendekatan interpesonal seperti ini yang membangun kedekatan emosional antara satu sama lain.
Sejumlah penelitian organisasi sudah lama menunjukkan polanya: anggota yang punya ikatan kuat dengan rekan-rekannya cenderung enggan keluar atau menjadi pasif. Dalam konteks GenBI, kesetiaan semacam ini tidak hanya terbaca dari kehadiran fisik saat kegiatan. Ia muncul dalam bentuk yang lebih halus, mulai dari inisiatif melempar ide, kerelaan menyisihkan waktu luang, sampai kesediaan menutupi tugas rekan yang sedang kewalahan. kesetiian ini hadir dari tiap anggota untuk memilih menetap yang berawal dari rasa tanggung jawab moril kepada pihak BI bertumbuh menjadi rasa memiliki satu sama lain kerana budaya sederhana, yaitu bacarita.
Maka, memasuki 2025, organisasi kepemudaan seperti GenBI rasanya sulit dikelola dengan gaya birokratis yang kaku. Pendekatan yang serba mekanis hanya akan melahirkan anggota bermental "yang penting gugur kewajiban". Sebaliknya, komunikasi yang hangat, apresiatif, sekaligus berani jujur adalah cara paling masuk akal untuk mencetak kader yang benar-benar mau bekerja.
Pada akhirnya, capaian GenBI Maluku Utara 2024–2025 untuk masyarakat Kie Raha tidak cukup diukur dari jumlah program yang berhasil dijalankan. Ukuran yang lebih jujur ada di tempat lain, yakni sejauh mana setiap anggota merasa bertumbuh, dihargai, dan terhubung satu sama lain. Sebab sehebat apa pun sebuah organisasi, fondasinya selalu kembali pada satu hal sederhana: cara orang-orang di dalamnya saling berbicara.