Di Jepang ada sebuah tradisi bernama kanreki, perayaan ulang tahun ke-60 yang dimaknai bukan sebagai penambahan usia, melainkan sebagai kelahiran kembali. Penanggalan tradisional Jepang menghitung waktu dalam siklus enam puluh tahun, gabungan sepuluh batang langit dan dua belas cabang bumi yang berputar bersama seperti dua roda gigi raksasa. Ketika seseorang genap berusia enam puluh, ia dianggap telah menuntaskan satu putaran penuh kalender kosmis dan kembali ke titik nol, kembali menjadi “bayi” dalam siklus yang sama sekali baru. Karena itu, orang yang merayakan kanreki akan mengenakan pakaian berwarna merah menyala, warna yang sama dengan yang dikenakan bayi yang baru lahir dalam tradisi Jepang kuno, seolah hendak berkata kepada dunia bahwa hidup boleh dimulai dari lembaran yang benar-benar putih.
Ada keindahan yang nyaris menggetarkan dalam gagasan “lahir kembali” semacam ini, sebab ia menjanjikan sesuatu yang jarang ditawarkan oleh waktu, yaitu kesempatan kedua yang datang bukan karena permintaan, melainkan karena keniscayaan siklus itu sendiri. Namun di balik keindahan itu tersembunyi sebuah godaan halus yang mudah luput dari perhatian. Sebab bayi yang baru lahir, betapapun sucinya ia dalam simbol, sesungguhnya tidak pernah benar-benar kosong. Ia membawa serta seluruh warisan yang mengalir dalam darahnya, seluruh riwayat yang membentuk garis wajahnya, dan dalam bahasa yang lebih membumi, ia juga mewarisi persoalan yang belum sempat dituntaskan oleh generasi sebelumnya. Kelahiran kembali, jika kita jujur, tidak pernah benar-benar berarti memulai dari nol. Ia lebih sering berarti mengenakan pakaian baru sambil diam-diam menggendong beban yang lama.
Ada pula cara lain untuk menghitung enam puluh tahun selain lewat lembar kalender yang berganti setiap kali Desember berlalu. Enam puluh tahun IAIN Ternate adalah sekian kali pergantian pucuk pimpinan, dari rektor pertama yang memulai segalanya dengan tangan yang nyaris kosong, hingga rektor hari ini yang mewarisi cita-cita besar untuk membawa kampus ini melangkah lebih jauh. Ia adalah entah berapa generasi alat komunikasi yang silih berganti di tangan mahasiswa, dari surat yang dikirim lewat kapal pos dan ditunggu berminggu-minggu, hingga pesan yang kini terkirim dalam hitungan detik lewat telapak tangan. Ia adalah ribuan kali pergantian musim hujan dan musim kemarau di atas langit Ternate, yang setia menyaksikan angkatan demi angkatan mahasiswa datang dengan mimpi yang sama besarnya, meski wajah dan nama mereka selalu berganti. Menghitung enam puluh tahun hanya lewat angka di atas kertas barangkali adalah cara paling malas untuk memahami betapa panjang dan berlikunya perjalanan yang sesungguhnya telah ditempuh.
Pertanyaan itulah yang terasa layak untuk kita ajukan, dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih, ketika IAIN Ternate merayakan usianya yang keenam puluh pada 31 Agustus 2026, dan hari-hari ini masih bergema dalam rangkaian syukuran yang akan mencapai puncaknya pada 5 September nanti. Apakah kita sesungguhnya sedang menyaksikan sebuah kanreki yang seutuhnya, sebuah kelahiran kembali yang lahir dari keberanian mengevaluasi diri, ataukah kita hanya sedang bergembira mengenakan jubah baru yang kelak akan bernama Universitas Islam Negeri Sultan Baabullah, sementara di balik kain yang berkilau itu, persoalan-persoalan lama masih setia menggandeng langkah kita?
Panggung yang Penuh, Ruang yang Sering Kita Lupakan
Siapa pun yang mengikuti riuhnya linimasa media sosial dan pemberitaan lokal Maluku Utara sepanjang bulan Agustus ini, tentu akan menyaksikan sebuah panggung yang benar-benar megah, panggung yang layak diberi tepuk tangan panjang. Tema besar “60 Tahun IAIN Ternate Berkhidmat pada Kebajikan” digaungkan dengan penuh wibawa dari auditorium kampus. Falsafah lokal Ternate, Toma manangngo gopi, gapu manangngo sopo, dikutip berulang kali dengan nada haru untuk mengingatkan kita bahwa apa yang ditanam para pendahulu kini tengah dinikmati oleh generasi hari ini. Menteri Agama mungkin dipastikan hadir langsung dari Jakarta, menandai betapa pentingnya momentum ini di mata pusat kekuasaan. Rangkaian bedah buku, kaleidoskop prestasi, dan testimoni haru para alumni yang bangga menyandang nama almamater, semuanya berpadu menjadi satu simfoni perayaan yang—sejujurnya, sangat pantas diberikan kepada sebuah institusi yang telah bertahan dan berjuang selama enam dekade penuh.
Namun di sudut yang lain, jauh dari sorot lampu panggung dan gemuruh tepuk tangan, ada ruang yang jauh lebih sunyi, tempat percakapan berlangsung dengan nada yang lebih pelan namun tidak kalah penting untuk didengar. Di ruang itu, orang-orang membicarakan hal yang tidak sempat naik ke atas panggung, tentang program studi yang masih berjuang keras untuk naik peringkat, tentang dosen-dosen yang telah lama layak memperoleh gelar guru besar namun terhambat oleh sejumlah sengkarut, tentang mahasiswa yang harus menempuh jarak laut yang panjang dan melelahkan hanya untuk sampai ke ruang kuliah. Bahasa yang digunakan di ruang ini memang tidak semeriah bahasa panggung, tetapi justru di situlah kejujuran sebuah institusi paling mudah ditemukan, sebab kejujuran jarang sekali tampil dengan riasan dan tata lampu.
Dua ruang ini, panggung yang penuh dan ruang yang sunyi, sebenarnya sedang menuturkan dua kisah tentang usia yang sama persis. Dan sesungguhnya tidak ada yang keliru dari kenyataan bahwa keduanya berbeda, sebab setiap institusi yang hidup memang selalu memiliki wajah seremonial sekaligus wajah struktural yang berjalan beriringan. Yang barangkali perlu kita jaga bersama adalah agar wajah pertama tidak tumbuh terlalu subur hingga menaungi wajah kedua, sebab jika itu terjadi, yang tersisa bagi generasi mendatang hanyalah kenangan tentang pesta yang meriah, bukan warisan tentang kerja keras yang membuahkan hasil.
Enam Dekade, dan Ingatan yang Selalu Memilih
Dalam salah satu tulisan reflektif yang beredar menjelang perayaan ini, seorang kolega—(saya menyebut demikian kerana beliau manginginkan hal itu) antropolog—menulis dengan sangat indah bahwa merayakan Dies Natalis pada hakikatnya adalah soal kesadaran kolektif, kesadaran tentang utang budi kepada mereka yang telah mendirikan institusi ini enam puluh tahun silam dengan tangan yang nyaris kosong namun hati yang penuh keyakinan. Saya sepenuhnya sepakat dan bahkan tersentuh oleh gagasan itu. Namun ingatan kolektif, sebagaimana ingatan manusia pada umumnya, selalu memiliki kecenderungan untuk memilih, untuk merapikan, dan kadang tanpa kita sadari, untuk melupakan sebagian cerita demi menjaga cerita yang lain tetap indah untuk dikenang.
Barangkali ada pertanyaan yang jarang sekali kita berikan ruang untuk diucapkan dalam suasana perayaan seperti ini, sebuah pertanyaan yang mungkin terasa mengganggu namun sesungguhnya lahir dari cinta yang sama besarnya dengan cinta yang melahirkan pidato-pidato indah di atas panggung. Siapa saja di antara kita yang, sepanjang enam puluh tahun perjalanan ini, belum sempat benar-benar menikmati buah dari apa yang ditanam para pendahulu? Ada mahasiswa yang harus berhenti di tengah jalan karena beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, ada anak-anak kepulauan yang bermimpi besar namun terantuk oleh jarak dan biaya, ada pula para pendidik yang telah mengabdikan separuh usia namun belum sempat memperoleh pengakuan yang selayaknya mereka terima. Mereka semua bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari kisah yang sama, kisah tentang perjuangan yang belum selesai dan karena itu justru layak untuk terus diperjuangkan bersama.
Sebab pada akhirnya, sebuah institusi yang benar-benar dewasa pada usianya yang keenam puluh bukanlah institusi yang hanya pandai menghitung siapa saja yang berhasil ia besarkan, melainkan institusi yang juga berani, dengan kepala tegak dan hati yang lapang, menoleh kepada mereka yang belum sempat ia rangkul sampai tuntas, lalu berjanji untuk merangkul mereka lebih erat di perjalanan berikutnya.
Yang Menyeberang Laut untuk Sampai ke Ruang Kelas
Ada satu potret yang jarang sekali muncul dalam rangkaian foto dokumentasi Dies Natalis, padahal potret itu barangkali paling layak menjadi wajah sesungguhnya dari perayaan enam puluh tahun ini. Potret itu bukan tentang panggung yang bersinar atau pita yang digunting oleh pejabat, melainkan tentang seorang anak muda dari Taliabu, dari Sula, atau dari pelosok Halmahera, yang harus menempuh perjalanan laut berjam-jam lamanya, kadang berganti kapal lebih dari sekali, hanya untuk sampai ke ruang kuliah yang sederhana di Dufa-Dufa. Bagi mereka, menempuh pendidikan bukan sekadar soal mendaftar lalu mengikuti kelas seperti yang dibayangkan banyak orang. Ia adalah pertaruhan yang telah dimulai jauh sebelum perkuliahan pertama dimulai, sebuah pertaruhan yang melibatkan ongkos kapal yang tidak murah, waktu yang hilang di tengah lautan, dan doa yang dipanjatkan berulang-ulang agar ombak bersahabat sepanjang perjalanan.
Saat kampus di Ternate merayakan usianya yang keenam puluh dengan gegap gempita, barangkali ada di antara mereka yang justru sedang berjuang menyeberangi lautan yang sama, tidak sempat menyaksikan pesta itu, apalagi ikut merasakan kemeriahannya. Mereka tidak absen karena tidak peduli. Mereka absen karena jarak yang memang tidak berbelas kasihan, karena kepulauan Maluku Utara adalah anugerah geografis yang indah sekaligus tantangan logistik yang nyata bagi siapa pun yang ingin menuntut ilmu di pusatnya. Maka jika kita sungguh-sungguh ingin jujur menghitung siapa saja yang telah dilayani oleh institusi ini selama enam puluh tahun, kita juga wajib menghitung siapa saja yang harus berjuang jauh lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama, lalu bertanya dengan rendah hati kepada diri kita sendiri, sudah cukupkah kita hadir untuk mereka yang justru berjuang paling keras untuk sampai ke depan pintu kita.
Barangkali di titik inilah makna kepulauan bagi IAIN Ternate perlu dimaknai ulang, bukan sekadar sebagai latar geografis yang eksotis untuk disebut dalam sambutan, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijawab dengan kebijakan yang konkret, entah lewat kemudahan akses, keringanan biaya, atau kehadiran yang lebih dekat di pulau-pulau yang selama ini hanya bisa memandang Ternate dari kejauhan.
Menyambut UIN dengan Hati yang Jernih
Dari seluruh rangkaian perayaan yang berlangsung, tidak ada narasi yang bergema lebih kencang selain cita-cita besar untuk beralih bentuk dari IAIN Ternate menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Baabullah. Hampir setiap sambutan, hampir setiap pemberitaan, dan hampir setiap kunjungan ke Kementerian Agama, pada akhirnya selalu bermuara pada satu titik yang sama, yaitu bagaimana momentum enam puluh tahun ini dijadikan pengungkit semangat untuk mempercepat langkah menuju transformasi kelembagaan yang telah lama dinantikan itu.
Tentu kita menyambut cita-cita besar ini dengan sepenuh hati, sebab perluasan mandat keilmuan, penguatan wibawa kelembagaan, dan terbukanya ruang bagi kajian-kajian baru di luar keislaman semata, semuanya adalah langkah yang patut kita dukung bersama sebagai bagian dari kemajuan zaman. Namun izinkan saya menitipkan satu permenungan kecil, yang saya sampaikan bukan sebagai keraguan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang kepada institusi yang telah membesarkan begitu banyak dari kita. Perubahan nama sebuah lembaga, betapapun megahnya nama itu terdengar, tidak pernah dengan sendirinya menyelesaikan pekerjaan rumah yang telah lama menumpuk. Ia ibarat rumah lama yang diberi cat baru dan gerbang baru yang lebih megah, namun jika fondasi di dalamnya belum sepenuhnya kokoh, kita hanya sedang mempercantik tampilan luar sementara retakan di dalam terus dibiarkan menganga.
Karena itu, biarlah semangat menuju UIN Sultan Baabullah ini kita rawat bukan sebagai tujuan akhir yang cukup dirayakan dengan bangga, melainkan sebagai undangan untuk bekerja lebih keras dan lebih jujur dalam membenahi apa yang selama ini luput dari perhatian. Biarlah kelak, ketika gerbang baru itu benar-benar terbuka lebar, yang melangkah masuk adalah sebuah institusi yang telah menuntaskan pekerjaan rumahnya dengan penuh kesungguhan, bukan institusi yang sekadar berganti nama sambil menyeret persoalan lama ke dalam rumah yang baru dan berharap persoalan itu akan lenyap dengan sendirinya.
Kebajikan yang Paling Sederhana adalah Kejujuran
Tema resmi Dies Natalis ke-60 ini adalah “Berkhidmat pada Kebajikan”, sebuah tema yang indah, bahkan mulia, dan sungguh pantas menjadi pegangan bersama. Namun kebajikan yang sesungguhnya, dalam tradisi keilmuan mana pun yang pernah kita pelajari, tidak pernah cukup hanya dibuktikan lewat kalimat yang indah di atas mimbar. Kebajikan sejati justru paling sering diuji dalam hal-hal yang tidak glamor, dalam keberanian sebuah institusi untuk berkata jujur tentang di mana ia masih tertatih, sebelum ia terlalu bersemangat merayakan di mana ia telah berhasil.
Maka jika kita sungguh-sungguh ingin berkhidmat pada kebajikan di usia yang keenam puluh ini, barangkali khidmat yang paling tulus bukanlah menambah jumlah spanduk yang berkibar atau memperpanjang daftar tamu kehormatan yang hadir. Khidmat yang paling tulus adalah duduk bersama dengan hati yang rendah, saling menyimak persoalan yang selama ini kita simpan sendiri-sendiri, lalu dengan penuh kasih sayang menjadikan persoalan itu sebagai pekerjaan rumah bersama, bukan sekadar catatan kaki yang tenggelam di bawah gegap gempita perayaan.
Kepada Siapa Saja yang Masih Menaruh Harap
Izinkan saya, menjelang penghujung tulisan ini, menyapa beberapa pihak secara langsung, sebab perayaan enam puluh tahun ini sesungguhnya bukan milik satu golongan saja, melainkan milik semua orang yang pernah menautkan sebagian hidupnya dengan institusi ini, sekecil apa pun tautan itu.
Kepada para alumni yang kini tersebar di berbagai penjuru negeri, menjadi birokrat, pendidik, pengusaha, ulama, atau sekadar warga biasa yang menjalankan profesinya dengan jujur dan penuh tanggung jawab, izinkan saya mengingatkan bahwa kebanggaan menyandang nama almamater akan jauh lebih bermakna apabila diikuti dengan kepedulian yang konkret, entah lewat sumbangsih pemikiran, lewat jejaring yang dimiliki, atau sekadar kesediaan untuk sesekali pulang dan melihat langsung apa yang masih perlu dibenahi di rumah lama ini.
Kepada pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, mungkin bisa diitipkan harapan agar dukungan yang diberikan tidak berhenti pada seremoni dan sambutan yang hangat semata, melainkan berlanjut pada komitmen nyata untuk turut memikirkan bagaimana pendidikan tinggi keagamaan ini dapat menjangkau lebih banyak anak kepulauan yang selama ini terpinggirkan oleh jarak dan keterbatasan.
Dan kepada seluruh sivitas akademika, para dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan yang hari ini mengemban amanah, izinkan untuk disapa dengan bahasa yang paling sederhana, yaitu terima kasih atas segala yang telah diperjuangkan selama ini, dan mohon maaf apabila tulisan ini terasa seperti sindiran yang tajam, sebab sesungguhnya ia lahir dari harapan yang sama besarnya dengan harapan yang membuat kita semua masih betah tinggal, mengabdi, dan bertahan di kampus tercinta ini.
Amanah untuk yang Akan Datang
Ada satu golongan lagi yang barangkali paling penting untuk disapa dalam tulisan ini, meskipun mereka mungkin belum sempat membacanya hari ini. Mereka adalah mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kaki di kampus ini dengan mata yang berbinar penuh harap, para dosen muda yang baru memulai perjalanan panjang pengabdiannya, dan anak-anak kecil di pesisir Maluku Utara yang kelak, sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, barangkali akan menjadi bagian dari generasi yang merayakan Dies Natalis ke tujuh puluh, bahkan ke seratus.
Kepada mereka, izinkan generasi hari ini menitipkan sebuah amanah yang sederhana namun berat untuk dipikul, yaitu jangan pernah puas hanya dengan merayakan usia, sebab usia yang panjang tanpa kejujuran untuk terus membenahi diri hanyalah angka yang kosong belaka. Jadikanlah setiap kekurangan yang kita wariskan hari ini bukan sebagai beban yang memberatkan langkah, melainkan sebagai peta jalan yang menunjukkan ke mana perjuangan berikutnya harus dilanjutkan. Sebab pada akhirnya, sebuah institusi tidak pernah benar-benar selesai dibangun oleh satu generasi saja. Ia dibangun oleh estafet panjang orang-orang yang bersedia dengan ikhlas meneruskan apa yang belum sempat dituntaskan oleh mereka yang datang sebelumnya.
Enam puluh tahun bukanlah usia yang pantas dirayakan dengan menutup mata rapat-rapat. Ia adalah usia yang justru paling pantas dirayakan dengan membuka semua berkas dengan hati yang lapang, baik yang indah untuk dibaca maupun yang terasa perih, lalu bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita sedang benar-benar lahir kembali, ataukah kita hanya sedang berganti pakaian sambil berharap tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Dari Dufa-Dufa, di ujung timur Nusantara yang telah enam puluh tahun setia menyalakan pelita ilmu, semoga pertanyaan ini tidak berhenti pada perayaan hari ini, melainkan menjadi doa yang terus kita rawat bersama, hingga usia keenam puluh itu benar-benar layak dikenang sebagai awal dari sesuatu yang jauh lebih baik.
Tabik.!!!