TERNATE – Langkah IAIN Ternate menuju UIN Sultan Baabullah Ternate kian menemukan kejelasan. Sehari setelah bertemu Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, Rektor IAIN Ternate kembali menyambangi Kementerian Agama untuk memastikan satu hal: sejauh mana usulan alih bentuk itu telah bergerak di tataran teknis.
Pada Selasa, 4 Agustus 2026, Rektor IAIN Ternate, Dr. Adnan Mahmud, S.Ag., MA, didampingi Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Dr. Muhammad Amri, Lc., M.Th.I, bertemu dengan Ketua Tim Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Eksternal pada Biro Organisasi dan Tata Laksana (Ortala) Kementerian Agama RI, Muhammad Miftahul Hidayat. Pertemuan itu berlangsung dalam kerangka konsultasi sekaligus memastikan alih bentuk IAIN Ternate menjadi UIN Sultan Baabullah Ternate benar-benar masuk dalam skema tahun 2026.
Jawaban yang diterima melegakan. Miftahul Hidayat menjelaskan bahwa usulan IAIN Ternate menjadi UIN telah masuk dalam agenda Kementerian Agama tahun 2026. Lebih dari itu, Kementerian Agama bahkan telah melakukan revisi terhadap Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2024 — regulasi yang selama ini menjadi rujukan utama dalam proses pendirian, perubahan, dan pembubaran perguruan tinggi keagamaan negeri.
Revisi tersebut dimaksudkan untuk mengakomodir wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik tersendiri dan tidak dapat digeneralisir, seperti jumlah penduduk dan sejumlah indikator lainnya. Dengan kata lain, daerah kepulauan dengan struktur demografis khas seperti Maluku Utara tidak lagi diukur dengan patokan yang sama seperti wilayah berpopulasi besar.
Yang paling menggembirakan, dalam pertemuan itu Miftahul Hidayat turut memperlihatkan langsung skema usulan alih bentuk yang tengah berjalan. Nama IAIN Ternate tercantum di dalamnya, lengkap dengan tanda kurung afirmasi.
Tanda itu bukan sekadar catatan administratif. Bagi Rektor, penandaan tersebut menjadi bukti bahwa Menteri Agama, Prof. NU, sapaan akrab Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menaruh perhatian dan keseriusan agar IAIN Ternate segera bertransformasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tujuan akhirnya jelas: agar IAIN Ternate dapat berdiri sejajar dengan perguruan tinggi lainnya di Indonesia.
Rangkaian pertemuan selama dua hari di Jakarta ini pun membentuk satu garis yang konsisten. Dari Menteri Agama datang atensi dan sinyal diskresi, dari Sekretaris Jenderal datang penegasan status prioritas, dan dari Biro Ortala datang bukti dokumen bahwa proses tersebut telah masuk ke ranah teknis dengan status afirmasi.
Meski demikian, Rektor mengingatkan bahwa capaian sejauh ini belum berarti garis akhir. Justru di titik inilah, menurutnya, seluruh elemen perlu bergerak bersama.
"Oleh karena itu, kami berharap seluruh masyarakat Maluku Utara, wabil khusus sivitas akademika dan alumni IAIN Ternate, dengan momentum Dies Natalis ke-60 Tahun ini, mari bergandengan tangan, dan selalu memanjatkan doa agar niat baik ini diijabah oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa," ujar Adnan Mahmud.
"Sebagai orang beragama, segala ikhtiar sudah kita lakukan, maka selanjutnya adalah bertawakal kepada-Nya," tambahnya.
Momentum Dies Natalis ke-60 yang akan berlangsung pada 5 September 2026 memang menjadi titik temu yang istimewa. Di hari itu, enam dekade perjalanan lembaga akan dirayakan bersamaan dengan prosesi wisuda, dan Menteri Agama telah memastikan kehadirannya. Kini, ikhtiar administratif telah menemukan jalannya di Jakarta, sementara doa dan kerja bersama seluruh sivitas akademika menjadi bagian yang tak kalah menentukan untuk mengantar IAIN Ternate menuju babak barunya.